Tentang Gerdema

tentang-gerdema

GERDEMA, adalah akronim dari Gerakan Desa Membangun. Sebuah strategi pembangunan untuk mencapai kesejahteraan rakyat Kabupaten Malinau dengan menempatkan masyarakat desa sebagai pelaku utama pembangunan dan mengembangkan partisipasi masyarakat seluas-luasnya. Ini merupakan implementasi dari falsafah republik yakni dari rakyat, oleh rakyat dan sepenuthnya untuk mencapai kemakmuran rakyat.

Seluruh wilayah Kabupaten Malinau merupakan kawasan perdesaan dengan potensi besar, namun belum dikelola dan dikembangkan secara optimal. Kemiskinan, ketertinggalan dan keterisolasian masyarakat desa menjadi tantangan yang harus diatasi secara bersama dan sungguh-sungguh. Kunci keberhasilan pembangunan Kabupaten Malinau adalah kemauan dan kemampuan untuk memajukan desa. Di sinilah, GERDEMA akan menjadi ruh gerakan pembangunan yang digelorakan oleh “revolusi desa”. Desa tak lagi berada di luar gelanggang pembangunan, namun menjadi pelaku utama pembangunan.

Sejak menerima amanat menjadi bupati Malinau pada 2011, saya menjadikan GERDEMA sebagai strategi pembangunan. Ini bukan sesuatu hal yang ujug-ujug. Namun telah melalui perenungan panjang, serta uji pengalaman saya baik sebagai anak bangsa yang lahir dan tumbuh di perdesaan di kawasan perbatasan maupun pengalaman sebagai birokrat di daerah perbatasan.

Tak hanya itu, sebelum GERDEMA dijadikan sebagai kebijakan politik, saya merasa perlu mendapatkan landasan epistimologi serta uji akademik dengan menjadikan spirit GERDEMA menjadi riset disertasi saya pada Doktoral Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya. Puji Tuhan, pada 2010 saya berhasil mempertahankan disertasi saya “Pemberdayaan Masyarakat Desa Tertinggal di Wilayah Perbatasan-Studi tentang Pelaksanaan Gerakan Pembangunan Desa Mandiri (Gerbang Dema) di Desa Nawang Baru Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Malinau Provinsi Kalimantan Timur” dengan predikat cumlaud.

Untuk menjalankan GERDEMA, fokus utama pembangunan Malinau dilakukan di perdesaan. Selain diberi kepercayaan merumuskan dan melaksanakan program pembangunan desa dengan prioritas pembangunan infrastruktur, masyarakat desa juga diberi kepercayaan mengelola anggaran pembangunan. Tiap desa mendapatkan dana dari APBD sebesar Rp 1 miliar hingga Rp 3 miliar. Hal ini senafas dengan Undang-undang Nomor 6/2014 tentang Desa yang belum kunjung diberlakukan oleh pemerintah pusat. GERDEMA terbukti secara efektif mampu menurunkan angka kemiskinan di Malinau. Jika pada 2011 angka kemiskinan Malinau mencapai 40 persen, tiga tahun kemudian tinggal 10 peren.

Hal itu terjadi karena pembangunan terus menggeliat di perdesaan. Infrastruktur penopang perekonomian, pendidikan, kesehatan dan telekomunikasi terus tumbuh. Dalam konteks pembangunan di kawasan perbatasan, GERDEMA secara perlahan namun pasti mampu mengikis kecemburuan dan disparitas pembangunan di desa-desa perbatasan Indonesia dengan perbatasan Malaysia. Pada saat yang sama, rasa percaya diri dan bangga menjadi Bangsa Indonesia makin tumbuh di dada Penduduk Indonesia di perbatasan.

Atas gagasan GERDEMA, pada tahun 2013 saya menerima anugerah “Innovative Government Award” dari Kementrian Dalam Negeri. Tentu, semua tidak berhenti pada penerimaan penghargaan. Sebaliknya, penghargaan yang telah diterima harus memberikan lecutan untuk makin meningkatkan tujuan utama: meningkatkan kesehahteraan masyarakat melalui GERDEMA. []

 

Tags : Malinau

Berita terkait :

Buku Revolusi Desa

access_time21 April 2016
menu
menu